Minggu, 29 Juni 2014

SHALAT

Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Mengawali tulisan ini dengan mengucapkan Bismillahirrahmarni Rahim. Alhamdulillah puji syukur atas kehadirat Allah Swt yang dengannya penulis masih dititipkan nikmat kesehatan, nikmat kekuatan, nikmat ilmu dan iman serta kesempatan untuk menulis dan berbagi tentang apa yang penulis pahami tentang shalat, meski pemehaman itu hanyalah sedikit dari Allah Swt. Namun semangat penulis untuk membaginyalah hingga tergerakkan jiwa ini melalui ilmuNya pula.
Shalawat dan salam tidak henti-hentinya dikirimkan kepada baginda Rasul Allah Swt, yang karenanya pula ilmu ini sampai kepada penulis melalui pewarisnya yang masih hidup. Begitupula kembali penulis ucapkan Alhamdulillah atas jalan yang ditunjukan oleh Allah Swt yang mempertemukan penulis dengannya, seorang guru yang bagi penulis anggap beliau bukan hanya sekedar guru biasa melainkan guru yang mursyid.
Sebelum membahas mengenai shalat dengan tujuan pemahaman. Terlebih dahulu penulis mengajak untuk melakukan penalaran terhadap masalah yang terjadi bagi kaum muslimin khususnya yang rajin melaksanakan ibadah shalat. Penulis mengajak pula untuk melakukan penalaran terhadap skala luas kemudian kita kerucutkan dan mengambil kesimpulan dari apa yang akan penulis paparkan.
Banyak di luar sana kedengarannya pintar membahas shalat, ada yang betul-betul pintar dan ada pula yang tidak begitu berbobot karena berbaga hal pertimbangan namun itu Allah yang lebih mengetahui. Banyak pula di luar sana sering kita dapati masyarakat yang sami'na waatha'na tanpa memperhatikan ilmuNya, pemahamanNya tentang apa yang mereka kerjakan tersebut. Di antara manusia ada pula yang rajin melaksanakan shalat namun tetap sakit-sakitan. Begitu juga yang lumrah kita dapati di tengah-tengah masyarakat mereka melaksanakan ibadah dengan motivasi pahala, dosa, takut neraka, ingin surga, dan ada juga yang murni karena ridha Allah Swt, dan masih banyak hal lain yang dapat kita liat dan amati secara seksama yang lahir dan tumbuh ditengah-tengah masyarakat.
Dari beberapa masalah di atas, tentu tidak bisa dibiarkan begitu saja tumbuh dan berkembang. Maksud penulis bukan menyalahkan mereka, penulis justru memandang itu baik, namun maksud penulis adalah bagaimana tidak tanduk prilaku dan perbuatan kita mestinya disertai dengan ilmuNya. Karena bagi penulis hal yang di paparkan di atas itu merupakan masalah karena tidak sesuai dengan harapan dan kenyataan, tidak sesuai teori dengan fakta.
Secara seksama kita dapat melihat berbagai teori mengenai shalat dalam al-Quran dan hadits yang bertentangan dengan fakta yang terjadi. Misalkan firman Allah Swt, "shalat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar". "Shalat, puasa, dan zakat" yang selalu kita dengarkan dan baca. Bahkan masih banyak lagi yang lain dalam al-Quran dan hadits yang penulis tidak sempat paparkan satu persatu, cukup nanti pembaca yang mencarinya sebagai bahan pertimbangan pemecahan masalah.
Hal yang wajar bagi penulis jika orang-orang di luar sana melakukan kemungkaran dan ingkar karena memang mereka tidak sama sekali melaksanakan shalat. Justru yang tidak wajar adalah bagi orang-orang yang rajin ke mesjid, rajin shalat dan melaksanakan ibadah justru kita dapati ingkar dan mungkar. Bagi penulis itu karena kurang ilmu, mereka membaca al-Quran dalam teks bahasa arab, dengan mengabaikan artinya, jadinya kurang faham terhadap apa yang Allah sampaikan, itu karena motivasi pahal dan lain sebagainya.
Banyak orang melaksanakan shalat yang mereka dapati hanyalah rasa capek, tidak ikhlas melaksanakan karena hanya memenuhi kewajiban belaka atau takut akan neraka. Mereka yang demikian tidak lain hanyalah olah raga, berdiri rukuk sujud dan duduk. Dan masih banyak lainnya yang bagi penulis perlu dibenahi terutama pada diri penulis sendiri.
Dari latar belakang di atas dapat kita tarik rumusan masalah, sebagai berikut:
1. Apa sih shalat itu?
2. Seperti apa mendirikan shalat?
Ketika mencoba menelaah dengan berbagai teori dalam al-Quran dan hadits yang penulis bisa baca sendiri. Shalat itu tidak seperti pemahaman umum masyarakat jika ditanya tentang shalat, sebagian besar di antara mereka menjawab merujuk pada shalat lima waktu dalam artian gerakan shalat. Sebagian kecil saja mereka menjawab seperti apa yang penulis harapkan.
Untuk menjawab rumusan masalah di atas. Menurut hemat penulis shalat itu bukan sekedar gerakan melainkan shalat itu luas dan dalam makna dan pemahamannya. Menurut apa yang pernah penulis dengar dari guru. Hakekat shalat itu, atau dengan kata lain shalat adalah kebenaran. Sebelum melaksanakan ibadah sahalat lima waktu maka yang pertama perlu di perhatikan adalah shalat itu sendiri atau kebenaran itu sendiri.
Kebenaran itu selalu ada di dalam hati setiap insan, bersemayam di dalam jiwa setiap insan. Baik kebenaran berupa perkataan dalam hati, begitu pula berupa sifat yang nampak pada perasaan dan rauk muka, dan kebenaran dalam artian perbuatan. Mari kita menelaah pada diri kita sendiri. memilah milah di antara berbagai banyak perkataan dalam  hati, banyak perasaan dan perbuatan yang nampak meski itu belum kita laksanakan.
Misalkan seseorang yang terketuk di dalam hatinya untuk mengatakan sesuatu yang tidak benar, lalu dengan mudahnya ia mengucapkannya melalui lisannya kepada orang lain, apakah itu disebut kebenaran (kebaikan)? Jadi setelah memahami shalat itu sbagai kebenaran, marilah kita bersama sama menegakkannya atau mendirikannya terutama pada diri kita sendiri, baik berupa perkataan dalam hati, sifat atau perbuatan yang hendak kita ucapkan dan laksanakan.
Pertama-tama kita perlu memperhatikan sifat dan perkataan hati yang setiap detiknya terketuk dalam hati. itu tidak sulit karena yang mengetahuinya adalah diri kita sendiri, hanya saja kita perlu menelaah jika sifat (perasaan) dan perkataan hati itu benar (baik) maka boleh kita ucapkan dan sampaikan kepada orang lain. Namun jika ia merupakan keburukan maka segeralah istigfar dan jangan melaksanakannya. Karena jika kita melaksanakan (menuruti) sifat dan perkataan yang buruk itu maka jelaslah kita tidak menegakkan kebenaran dalam artian tidak mendirikan shalat.
Lalu shalat lima waktu yang dicontohkan Rasul Allah itu apa? Apakah ia bukan shalat?
Shalat lima waktu juga merupakan shalat, disanalah tempatnya kita menghadapkan segala apa yang telah kita perbuat disetiap antara shalat lima waktu itu. Apakah kebenaran yang kita perbuat ataukah keburukan? itulah yang kita hadapkan pada shalat lima waktu. 
Masih banyak lagi yang penulis ingin sampaikan, namun cukup sampai disini saja sebagai pengantar pemahaman, untuk diskusi lebih lanjut dapat dilakukan dengan komentar atau via e-mail amirsyam_marsuki@yahoo.co.id
Kurang lebihnya mohon dimaafkan karena kebenaran itu datangnya dari Allah Swt. Jika kurang memahami atau hendak menanggapi silahkan kirim komentarnya.
Atas perhatiannya penulis ucapkan banyak terima kasih.

Tidak ada komentar: