Senin, 07 Juli 2014

Islam


Bismillahi Rahmani Rahim
Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh
TIGA HAL SEHARUSNYA TERPENUHI PADA DIRI KITA
1.       RUKUN ISLAM
a.       Syahadat
Syahadat merupakan rukun islam yang pertama. Pertama dan utama yang mesti terpenuhi bagi tiap-tiap diri seorang muslim dan mukmin. Syahadat adalah pengakuan sebagai bentuk kesaksian mutlak akan Allah Azzawalla. Pengakuan kepada Allah sebagai Tuhan yang patut disembah dan tiada sekutu baginya tidak menyekutukannya terhadap sesuatupun. Menyekutukan Allah tidak hanya berupa menyembah berhala atau meyakini sesuatu selain dari pada Allah, namun menuruti kehendak hawa nafsu yang berlebihan juga merupakan bentuk mempersekutukan Allah. Lalai ingatan kepada Allah juga merupakan bentuk mempersekutukan Allah. Karena jika seorang mengingat sesuatu yang tidak ada manfaatnya kepada Allah (keburukan) apa lagi saat ia melaksanakan keburukan tersebut berarti telah meninggalkan apa yang diperintahkan oleh Allah, meninggalkan apa yang diperintahkan oleh Allah berarti menaati selain dari pada Allah dalam artian memilih Tuhan yang lain untuk ditaati selain dari pada Allah. Jadi jelaslah hal demikian merupakan bentuk mempersekutukan Allah. Lain dari pada itu, mengakui diri sebagai orang yang taat, beriman dan suci juga merupakan mempersekutukan Allah, karena membibit jiwa untuk menjadi jiwa yang sombong. Mengakui diri sebagai pribadi yang lebih dari pada orang lain dengan kata lain tidak rendah diri dan tidak rendah hati berarti Ingkar kepada Allah karena bukan lagi Allah yang kita akui melainkan diri sendiri. Oleh karena sifat seperti itu merupakan sifat buruk maka itu merupakan pengakuan selain dari pada Allah dengan kata lain Mempersekutukan Allah terhadap sesuatu.
Begitu halnya dengan Rasululla, Rasul Allah yang semestinya kita taati disetiap ucapannya sebagai pedoman dalam mengarungi bahtera kehidupan dunia ini. Barang siapa yang tidak melaksanakan perintah Rasul yang datangnya dari Allah berarti ingkar kepada nabinya Allah. Tidaklah sempurna iman jika hanya mengakui Allah tanpa mengakui Rasulnya, karena adanya Allah itu karena adanya Rasul Allah yang menyampaikan ilmunya sebagai petunjuk kebenarannya Allah. Salah satu bentuk ketaatan kepada Rasul Allah yakni dengan mengikuti petunjuknya, melaksanakannya tanpa pamrih tanpa mengharap imbalan apapun selain dari pada ridhonya Allah semata. Ridho (Pengakuan) hanya itulah yang pantas diharapkan seorang hamba yang bersyahadat.
Banyak orang mampu membaca syahadat, membaca dua kalimat syahadat, namun tidak melaksanakannya, tidak menjadikan dirinya syahadat meski sebenarnya ia merupakan syahadat itu sendiri. Banyak orang mengakui sepenuh hati bahwa Allah adalah Tuhan yang petut disembah dan Rasulnya adalah kebenarannya. Namun pernahkah kita bertanya pada diri sendiri bahwa, apakah Allah dan Rasulnya sudah mengakui kita sebagai hamba dan ummatnya? Jangan sampai hanya kita yang mengakuinya namun Allah dan Rasulnya tidak mengakui kita dikarenakan sifat kita sendiri yang tidak mencerminkan bahwa kita telah bersyahadat. Tidak mencerminkan bahwa kita telah mengakuinya baik dari segi sifat, perkataan dan yang paling utama adalah perbuatan kita.
Wallahu A’lam bishshawab.
b.      Shalat
Setelah terpenuhi rukun Islam yang pertama, maka untuk menyempurnakan keislaman kita tentu harus mendirikan shalat. Shalat itu sendiri adalah kebenaran. Sebelum mendirikan ibadah shalat dalam artian sembahyang, maka hal yang mutlak yang harus ada dilaksanakan adalah mendirikan terlebih dahulu shalat itu pada jiwa kita sebelum menghadapkannya pada shalat lima waktu. Shalat atau kebenaran didirikan pada jiwa kita masing-masing, mendirikan shalat tentu harus senantiasa memeriksa terhadap apa kejadian yang ada di dalam jiwa kita, baik berupa sifat, perkataaan dan perbuatan. Jika dari ketiga hal tersebut masih memiliki keburukan maka itu bararti belum mendirikan kebenarannya yang sesungguhnya. Salah satu rujukan penjelasan di atas yakni hadits qudsi yang menjelaskan bahwa, Allah Swt berfirman “janganlah sekali kali oleh hambaKu masuk ke dalam mesjidKu untuk beribadah kepadaKu sebelum ia mengembalikan harta rampasannya”.
Dari hadits qudsi di atas maka jelaslah keburukan yang terjadi baik berupa sifat, perkataan dan perbuatan tentu harus dikembalikan dulu kepada yang memilikinya sebelum menghadap kepada Allah Swt. Harta rampasan yang dimaksud pada hadits di atas adalah keburukan itu sendiri yakni lawan kata dari kebenarannya Allah. Siapa pemilik keburukan itu adalah iblis, namun jangan menyalahkan iblis karena sifat iblis adalah sifat yang baik bagi dia namun tidak sesuai bagi manusia. Karena manusia memiliki sifat sendiri, memiliki qudrat penciptaan sendiri sebagai manusia begitupula makhluk Allah yang lain masing-masing memiliki sifat qudrat penciptaannya masing-masing. Yang salah jika seorang manusia justru memiliki sifat iblis atau binatang padahal ia diciptakan sebagai manusia.
Itulah shalat yang sesungguhnya, shalat yang mesti terpenuhi disteiap diri seorang hamba. Maka jelaslah firman Allah “shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar”. Dilain hal Allah berfirman dalam hadits qudsi “Allah pemilik kerajaan yang ada dilangit dan di bumi” “Bangunlah mesjid Allah di bumi” hadits rasulullah “peliharalah mesjid atau makmurkan mesjid”. Mesjid yang dimaksud disini adalah rumah Allah yakni hatinya orang mukmin. Bagaimana cara membangun mesjid,  memelihara dan memakmurkannya. Tentu dengan jalan mendirikan kebenarannya dalam hati kita. Tidak menuruti setiap godaan yang wujud pada hati kita melainkan menuruti kebenaran yang Allah tunjuki di dalam hati kita.
Setelah semua itu terpenuhi barulah kita menghadapkannya kembali kepada Allah dalam shalat lima waktu. Yang demikian di atas biasa orang sufi atau guru mursyid menyebutnya dengan shalat daim (shalat yang tiada putusnya). Kenapa musti dihadapkan pada shalat lima waktu, karena kebenaran itu merupakan milik Allah, wajib kiranya kembalikan kepadaNya dengan menghadapkannya sesuai tuntunan Rasulullah “shalatlah sebagaimana kamu melihat aku shalat”.
c.       Puasa
Puasa adalah menahan. Menahan segala bentuk atau hal-hal yang dapat merusak diri (jiwa) seorang hamba Allah. Puasa tidak hanya menahan lapar dan haus melainkan menahan hawa nafsu atau dorongan keinginan yang keluar dari tuntunan AL-quran dan hadits. Menahan hawa nafsu yang berlebihan, tidak bermanfaat bagi manusia dan disisi Allah. Karena banyak hal yang bermanfaat disisi manusia namun belum tentu disisi Allah, atau niali manfaatnya kurang. Puasa juga merupakan pembersihan diri, bentuk memelihara diriNya Allah. “barang siapa yang memelihara diriNya Allah maka Allah yang pelihara dia dalam artian Allah yang akan menjaganya”.
d.      Zakat
Membayar zakat atau mengeluarkan zakat dari sebagian apa yang dikaruniakan Allah kepada kita utnuk saudara kita sesame muslim bahkan yang non muslim dan berhak mendapatkannya merupakan salah satu rukun Islam yang harus terpenuhi. Zakat mengajarkan kita untuk senantiasa selalu rendah diri dan rendah hati serta sadar akan apa yang kita miliki tentu hanyalah titipan dari Allah Swt. Zakat mengajarkan kepada manusia saling tolong menolong, menumbuhkan solidaritas, kekeluargaan dan kebersamaan. Dari sini dapat kita maknai sebagai ketauhidan. Zakat mengajarkan kepada kita bahwa semuanya adalah miliknya Allah, dan kembalinya kepada Allah yakni dengan jalan kebenaran, yang bermanfaat kepada kebaikan dan kemashlahatan ummat.
e.      Haji
Setelah terpenuhi rukun Islam hingga Zakat maka wajib pula kiranya menunaikan ibadah hali bagi yang mampu demi kesempurnaan keislaman diri kita. Haji itu sendiri adalah suci. Tidaklah mungkin dikatakan seseorang itu suci disisi Allah jika keempat rukun Islam itu belum terpenuhi.
Banyak orang menunaikan ibadah haji di tanah suci mekah, namun belum tentu ia suci disisi Allah, begitupula saudara kita yang belum berkesempatan menunaikan ibadah haji ke tanah suci mekah atau baitullah, namun bisa jadi ia suci disisi Allah Swt.
Suci akan sifatnya, suci akan perkataannya serta suci akan perbuatannya. Suci dapat pula dimaknai sebagai ketaatan atau pemurnian ibadah hanya kepada Allah. Suci dalam artian tidak membangkang tidak ingkar dan kufur serta tidak melawan kehendak sang Khaliq dan RasulNya.
Hanyalah Allah yang mengetahui kesucian seorang diri manusia, manusia hanyalah berusaha melaksanakan perintah dan meninggalkan laranganNya. Manusia tidak boleh merasa suci, karena manusia tempatnya kehilafan, tidak lah dikatakan manusia jika ia tidak memiliki kesalahan dan tidaklah dikatakan hati jika tidak naik turun imannya. Namun kesemuanya itu, naik turunnya iman hanyalah sebagai ujian dan cobaan. Utnuk meraih kesuciannya Allah hanyalah dengan usaha. Manusia tidak sempurna dan tidak suci melainkan ia disempurnakan dan disucikan oleh Allah. Allah yang Maha Mengetahui siapa yang Ia kehendaki untuk disempurnakan dan siapa yang Ia kehendaki untuk disucikan.

2.       IBADAH (TUNDUK)
Tunduk itu berarti mengikuti perintah dan menjauhi laranganNya. Perintah Allah:
a.       Mengakui Allah
“Akuilah Allah dan janganlah mempoersekutukanNya kepada sesuatupun selain dari padaNya” Mengakui Allah berarti tidak mengakui selain dari padaNya. Seyogyanya seorang manusia yang taat ia mengakui Allah, tidak mengakui selain dari padanya, serta sadar akan semuanya milik Allah semata. Memurnikan ibadah. Serta mengakui Allah tanpa sedikitpun keraguan.
b.      Meyakini Allah
Meyakini dan membenarkan Allah dengan sepenuh hati, dengan segenap lisan hati dan perbuatan, meyakini dan membenarkan Allah tanpa keraguan akan diriNya. Yakin sepenuh hati, hakkul yakin dan ainul yakin. Yakin kepada Allah sebagai pemilik setiap puji pujian, Allah sebagai Tuhan yang Maha Pemuran lagi Maha Penyayang tiada lain selain dari padaNya. Allah pulalah yang menguasai hari pembalasan. Kepadanyalah semestinya kita taat dan patuh serta memomohon pertolongan. “Allah adalah sebaik baik penolong dan bertawakkalah kepadanya”.
c.       Memuji Allah
Memuji Allah, tidak hanya dengan lisan, tidak hanya dengan bacaan melainkan dengan penuh keyakinan dengan penuh iman bahwa hanya Dialah pemilik segala pujian pujian. Meski kita dipuji oleh sesame manusia kembalikan lah kepada Allah, karena hanya Allah lah yang patut kita puji karena Allah pemilik pujian itu. Baik dari segi pandangan, ucapan, pendengaran dan perasaan yang nikmat kita rasa tentu semuanya itu adalah wujud kebesaranNya dan Dialah pemilikna kepada Allah pulalah kembalinya.
d.      Mensucikan Allah
Mensucikan Allah berarti mensucikan diri, mensucikan diri berarti mensucikan lisan (ucapan) sufat dan perbuatan. Jika demikian sama halnya dengan mensucikan milik Allah, berarti mensucikan Allah pulah. Artinya sadar akan Kesuciannya Allah dari segala apa yang Allah titipkan kepada kita akan apa yang Allah karuniakan kepada kita (Pandangan, Lisan, Pendengaran, Perasaan, Jiwa, Hati dan lain lain sebagainya termasuk kesehatan dan nikamat kesempatan serta kekuatan pada jiwa sehingga bisa berbuat sesuai keinginan) dari kesemuanya itulah yang harus kita sucikan, menjaganya dari segala bentuk keburukan, agar kita termasuk golongan manusia yang bartakwa.
e.      Membesarkan Allah (menghormati)
Membesarkan Allah juga tidak hanya dengan ucapan semata, melainkan menghormati Allah, taat akan perintahnya, tunduk dan patuh, membesarkan jiwa kita agar tidak berpaling dari Allah, serta menghormati segala bentuk ciptaanNya baik yang Nampak maupun yang tidak Nampak dengan kasak mata. Menghormati segala apa yang ditakdirkan Allah kepada kita, termasuk menghormati takdirnya yakni bersyukur akan pemberianNya, menghormati takdir hidup pada lingkungan keluarga kita, dirwat oleh orang tua kita dan lain sebagainya. Termasuk menghormati segal wujud kebesaranNya, namun tidak menyembah kebesaranNya hanya menghormatinya karena penciptanya.
3.       SIFAT PENGABDIAN (PENGHAMBAAN)
Pengabdian kepada Allah berarti sifat penghambaan diri. Terbagi lima bagian utama:
a.       Tekun beribadah
Rajin tekun beribadah kepada Allah tidak bermalas malasan. Ini juga merupakan nafsu mutmainnah. Tekun dan bersungguh sungguh (kesungguhan hati).
b.      Ikhlas menjalankan perintah Allah
Ikhlas beribadah tanpa pamrih, tanpa mengharap pahala atau surga, bukan karena takut nearaka atau balasanNya, bukan juga karena hanya sekedar melaksanakan, atau menggugurkan kewajiba, bukan pula atas dasar riya’ ingin dikata rajin dan lain sebagainya.
c.       Sabar beribadah
Sabar berarti tidak banyak Tanya, kenapa mesti begini dan kenapa mesti begitu. Laksanakan saja. Sebagaimana surat al-Ikhalsh yang di dalamnya tidak sekalipun ada kata yang menyebut kaya ikhlas. Ikhlas itu tidak disebut sebut setiap kebaikan yang telah kita laksanakan, bahkan setiap kebaikan yang kita laksanakan tidak mengharap imbalan dan bila perlu apa yang telah kebaikan kita perbuat, dilupakan saja. Karena kesemuanya itu mutlak milik Allah semata.
d.      Rendah hati dan rendah diri
Tidak sombong, iri hati, dengki dan khilaf diri. Merasa bahwa Allah yang memiliki kita, Allah berhak akan hidup dan mati kita. Tidak ada yang kita miliki selain dari pada miliknya Allah semua. Nafas yang kita hirup juga milikNya. Semuanya milikNya. Tidak merasa angkuh dan tidak pula merasa benar, bahwa apa yang kita fahami itu kebenaran menganggap yang lainnya salah. Padahal semuanya kebenarannya Allah. Tidak merasa di atas dari yang lainnya, tidak merasa selalu ingin di atas dari orang lain. Dan lain sebagainya.
e.      Qana’ah (menerima apa adanya)
Menerima apa adanya dari setiap ketentuan takdir Allah setelah kita usahakan untuk memperoleh harapan kita melalui usaha kiat. Jika kita berusaha dan tidak sesuai dengan harapan terima saja dengan lapang dada. Terima dengan penuh keikhlasan. Tidak banyak ngomel, tidak banyak memaksakan kehendak. Selalu berharap yang terbaik disisi Allah.
                Dari ketiga hal penting di atas semuanya saling berkaitan. Dan tidaklah boleh terlepas satu sama lain untuk kemurnian ibadah kepada Allah, untuk Islam yang sesungguhnya agar kita diakui oleh Allah sebagai hambanya.
                Kesemuanya penulis lakukan dengan saling berbagi, biar sedikit yang penting bermanfaat disisi Allah, biar sedikit yang penting perbuatannya. Semua yang asal dari pada Allah Swt, jika masih ada kekurangan mohon ditambah atas kebenrannya Allah sendiri. Jika itu merupakan kelebihan tentunya semuanya milik Allah dan asalnya dari Allah. Ilmu yang kita ketahui saat ini sewaktu taktu Allah berhak mencabutnya jika Allah menghendakinya Karen miliknya sendiri.
                Untuk lebih jelasnya silahkan bertanya kepada guru yang mursyid. Salah satu guru mursyid yang penulis dipertemukan oleh Allah yakni Guru Besat Tapak Wali Indonesia.
Semoga bermanfaat, Amiiin.
Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Tidak ada komentar: