Bismillahi Rahmani
Rahim
Assalamu alaikum
warahmatullahi wabarakatuh
TIGA HAL SEHARUSNYA
TERPENUHI PADA DIRI KITA
1. RUKUN
ISLAM
a.
Syahadat
Syahadat merupakan rukun islam yang pertama. Pertama
dan utama yang mesti terpenuhi bagi tiap-tiap diri seorang muslim dan mukmin.
Syahadat adalah pengakuan sebagai bentuk kesaksian mutlak akan Allah Azzawalla.
Pengakuan kepada Allah sebagai Tuhan yang patut disembah dan tiada sekutu
baginya tidak menyekutukannya terhadap sesuatupun. Menyekutukan Allah tidak
hanya berupa menyembah berhala atau meyakini sesuatu selain dari pada Allah,
namun menuruti kehendak hawa nafsu yang berlebihan juga merupakan bentuk
mempersekutukan Allah. Lalai ingatan kepada Allah juga merupakan bentuk
mempersekutukan Allah. Karena jika seorang mengingat sesuatu yang tidak ada
manfaatnya kepada Allah (keburukan) apa lagi saat ia melaksanakan keburukan
tersebut berarti telah meninggalkan apa yang diperintahkan oleh Allah,
meninggalkan apa yang diperintahkan oleh Allah berarti menaati selain dari pada
Allah dalam artian memilih Tuhan yang lain untuk ditaati selain dari pada
Allah. Jadi jelaslah hal demikian merupakan bentuk mempersekutukan Allah. Lain
dari pada itu, mengakui diri sebagai orang yang taat, beriman dan suci juga
merupakan mempersekutukan Allah, karena membibit jiwa untuk menjadi jiwa yang
sombong. Mengakui diri sebagai pribadi yang lebih dari pada orang lain dengan
kata lain tidak rendah diri dan tidak rendah hati berarti Ingkar kepada Allah
karena bukan lagi Allah yang kita akui melainkan diri sendiri. Oleh karena
sifat seperti itu merupakan sifat buruk maka itu merupakan pengakuan selain
dari pada Allah dengan kata lain Mempersekutukan Allah terhadap sesuatu.
Begitu halnya dengan Rasululla, Rasul Allah yang
semestinya kita taati disetiap ucapannya sebagai pedoman dalam mengarungi
bahtera kehidupan dunia ini. Barang siapa yang tidak melaksanakan perintah
Rasul yang datangnya dari Allah berarti ingkar kepada nabinya Allah. Tidaklah
sempurna iman jika hanya mengakui Allah tanpa mengakui Rasulnya, karena adanya
Allah itu karena adanya Rasul Allah yang menyampaikan ilmunya sebagai petunjuk
kebenarannya Allah. Salah satu bentuk ketaatan kepada Rasul Allah yakni dengan
mengikuti petunjuknya, melaksanakannya tanpa pamrih tanpa mengharap imbalan apapun
selain dari pada ridhonya Allah semata. Ridho (Pengakuan) hanya itulah yang
pantas diharapkan seorang hamba yang bersyahadat.
Banyak orang mampu membaca syahadat, membaca dua
kalimat syahadat, namun tidak melaksanakannya, tidak menjadikan dirinya syahadat
meski sebenarnya ia merupakan syahadat itu sendiri. Banyak orang mengakui
sepenuh hati bahwa Allah adalah Tuhan yang petut disembah dan Rasulnya adalah
kebenarannya. Namun pernahkah kita bertanya pada diri sendiri bahwa, apakah
Allah dan Rasulnya sudah mengakui kita sebagai hamba dan ummatnya? Jangan
sampai hanya kita yang mengakuinya namun Allah dan Rasulnya tidak mengakui kita
dikarenakan sifat kita sendiri yang tidak mencerminkan bahwa kita telah
bersyahadat. Tidak mencerminkan bahwa kita telah mengakuinya baik dari segi
sifat, perkataan dan yang paling utama adalah perbuatan kita.
Wallahu A’lam bishshawab.
b.
Shalat
Setelah terpenuhi rukun Islam yang pertama, maka untuk
menyempurnakan keislaman kita tentu harus mendirikan shalat. Shalat itu sendiri
adalah kebenaran. Sebelum mendirikan ibadah shalat dalam artian sembahyang,
maka hal yang mutlak yang harus ada dilaksanakan adalah mendirikan terlebih
dahulu shalat itu pada jiwa kita sebelum menghadapkannya pada shalat lima
waktu. Shalat atau kebenaran didirikan pada jiwa kita masing-masing, mendirikan
shalat tentu harus senantiasa memeriksa terhadap apa kejadian yang ada di dalam
jiwa kita, baik berupa sifat, perkataaan dan perbuatan. Jika dari ketiga hal
tersebut masih memiliki keburukan maka itu bararti belum mendirikan
kebenarannya yang sesungguhnya. Salah satu rujukan penjelasan di atas yakni
hadits qudsi yang menjelaskan bahwa, Allah Swt berfirman “janganlah sekali kali oleh hambaKu masuk ke dalam mesjidKu untuk
beribadah kepadaKu sebelum ia mengembalikan harta rampasannya”.
Dari hadits qudsi di atas maka jelaslah keburukan yang
terjadi baik berupa sifat, perkataan dan perbuatan tentu harus dikembalikan
dulu kepada yang memilikinya sebelum menghadap kepada Allah Swt. Harta rampasan
yang dimaksud pada hadits di atas adalah keburukan itu sendiri yakni lawan kata
dari kebenarannya Allah. Siapa pemilik keburukan itu adalah iblis, namun jangan
menyalahkan iblis karena sifat iblis adalah sifat yang baik bagi dia namun
tidak sesuai bagi manusia. Karena manusia memiliki sifat sendiri, memiliki
qudrat penciptaan sendiri sebagai manusia begitupula makhluk Allah yang lain
masing-masing memiliki sifat qudrat penciptaannya masing-masing. Yang salah
jika seorang manusia justru memiliki sifat iblis atau binatang padahal ia
diciptakan sebagai manusia.
Itulah shalat yang sesungguhnya, shalat yang mesti
terpenuhi disteiap diri seorang hamba. Maka jelaslah firman Allah “shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar”.
Dilain hal Allah berfirman dalam hadits qudsi “Allah pemilik kerajaan yang ada dilangit dan di bumi” “Bangunlah mesjid Allah di bumi” hadits
rasulullah “peliharalah mesjid atau
makmurkan mesjid”. Mesjid yang dimaksud disini adalah rumah Allah yakni
hatinya orang mukmin. Bagaimana cara membangun mesjid, memelihara dan memakmurkannya. Tentu dengan
jalan mendirikan kebenarannya dalam hati kita. Tidak menuruti setiap godaan
yang wujud pada hati kita melainkan menuruti kebenaran yang Allah tunjuki di
dalam hati kita.
Setelah semua itu terpenuhi barulah kita
menghadapkannya kembali kepada Allah dalam shalat lima waktu. Yang demikian di
atas biasa orang sufi atau guru mursyid menyebutnya dengan shalat daim (shalat
yang tiada putusnya). Kenapa musti dihadapkan pada shalat lima waktu, karena
kebenaran itu merupakan milik Allah, wajib kiranya kembalikan kepadaNya dengan
menghadapkannya sesuai tuntunan Rasulullah “shalatlah
sebagaimana kamu melihat aku shalat”.
c.
Puasa
Puasa adalah menahan. Menahan segala bentuk atau
hal-hal yang dapat merusak diri (jiwa) seorang hamba Allah. Puasa tidak hanya
menahan lapar dan haus melainkan menahan hawa nafsu atau dorongan keinginan
yang keluar dari tuntunan AL-quran dan hadits. Menahan hawa nafsu yang
berlebihan, tidak bermanfaat bagi manusia dan disisi Allah. Karena banyak hal
yang bermanfaat disisi manusia namun belum tentu disisi Allah, atau niali
manfaatnya kurang. Puasa juga merupakan pembersihan diri, bentuk memelihara
diriNya Allah. “barang siapa yang
memelihara diriNya Allah maka Allah yang pelihara dia dalam artian Allah yang
akan menjaganya”.
d.
Zakat
Membayar zakat atau mengeluarkan zakat dari sebagian
apa yang dikaruniakan Allah kepada kita utnuk saudara kita sesame muslim bahkan
yang non muslim dan berhak mendapatkannya merupakan salah satu rukun Islam yang
harus terpenuhi. Zakat mengajarkan kita untuk senantiasa selalu rendah diri dan
rendah hati serta sadar akan apa yang kita miliki tentu hanyalah titipan dari
Allah Swt. Zakat mengajarkan kepada manusia saling tolong menolong, menumbuhkan
solidaritas, kekeluargaan dan kebersamaan. Dari sini dapat kita maknai sebagai
ketauhidan. Zakat mengajarkan kepada kita bahwa semuanya adalah miliknya Allah,
dan kembalinya kepada Allah yakni dengan jalan kebenaran, yang bermanfaat
kepada kebaikan dan kemashlahatan ummat.
e.
Haji
Setelah terpenuhi rukun Islam hingga Zakat maka wajib
pula kiranya menunaikan ibadah hali bagi yang mampu demi kesempurnaan keislaman
diri kita. Haji itu sendiri adalah suci. Tidaklah mungkin dikatakan seseorang
itu suci disisi Allah jika keempat rukun Islam itu belum terpenuhi.
Banyak orang menunaikan ibadah haji di tanah suci
mekah, namun belum tentu ia suci disisi Allah, begitupula saudara kita yang
belum berkesempatan menunaikan ibadah haji ke tanah suci mekah atau baitullah,
namun bisa jadi ia suci disisi Allah Swt.
Suci akan sifatnya, suci akan perkataannya serta suci
akan perbuatannya. Suci dapat pula dimaknai sebagai ketaatan atau pemurnian
ibadah hanya kepada Allah. Suci dalam artian tidak membangkang tidak ingkar dan
kufur serta tidak melawan kehendak sang Khaliq dan RasulNya.
Hanyalah Allah yang mengetahui kesucian seorang diri
manusia, manusia hanyalah berusaha melaksanakan perintah dan meninggalkan
laranganNya. Manusia tidak boleh merasa suci, karena manusia tempatnya
kehilafan, tidak lah dikatakan manusia jika ia tidak memiliki kesalahan dan
tidaklah dikatakan hati jika tidak naik turun imannya. Namun kesemuanya itu,
naik turunnya iman hanyalah sebagai ujian dan cobaan. Utnuk meraih kesuciannya
Allah hanyalah dengan usaha. Manusia tidak sempurna dan tidak suci melainkan ia
disempurnakan dan disucikan oleh Allah. Allah yang Maha Mengetahui siapa yang
Ia kehendaki untuk disempurnakan dan siapa yang Ia kehendaki untuk disucikan.
2. IBADAH (TUNDUK)
Tunduk itu
berarti mengikuti perintah dan menjauhi laranganNya. Perintah Allah:
a.
Mengakui Allah
“Akuilah Allah
dan janganlah mempoersekutukanNya kepada sesuatupun selain dari padaNya”
Mengakui Allah berarti tidak mengakui selain dari padaNya. Seyogyanya seorang
manusia yang taat ia mengakui Allah, tidak mengakui selain dari padanya, serta
sadar akan semuanya milik Allah semata. Memurnikan ibadah. Serta mengakui Allah
tanpa sedikitpun keraguan.
b.
Meyakini Allah
Meyakini dan membenarkan Allah dengan sepenuh hati,
dengan segenap lisan hati dan perbuatan, meyakini dan membenarkan Allah tanpa
keraguan akan diriNya. Yakin sepenuh hati, hakkul yakin dan ainul yakin. Yakin
kepada Allah sebagai pemilik setiap puji pujian, Allah sebagai Tuhan yang Maha
Pemuran lagi Maha Penyayang tiada lain selain dari padaNya. Allah pulalah yang
menguasai hari pembalasan. Kepadanyalah semestinya kita taat dan patuh serta
memomohon pertolongan. “Allah adalah
sebaik baik penolong dan bertawakkalah kepadanya”.
c.
Memuji Allah
Memuji Allah, tidak hanya dengan lisan, tidak hanya
dengan bacaan melainkan dengan penuh keyakinan dengan penuh iman bahwa hanya
Dialah pemilik segala pujian pujian. Meski kita dipuji oleh sesame manusia
kembalikan lah kepada Allah, karena hanya Allah lah yang patut kita puji karena
Allah pemilik pujian itu. Baik dari segi pandangan, ucapan, pendengaran dan
perasaan yang nikmat kita rasa tentu semuanya itu adalah wujud kebesaranNya dan
Dialah pemilikna kepada Allah pulalah kembalinya.
d.
Mensucikan Allah
Mensucikan Allah berarti mensucikan diri, mensucikan
diri berarti mensucikan lisan (ucapan) sufat dan perbuatan. Jika demikian sama
halnya dengan mensucikan milik Allah, berarti mensucikan Allah pulah. Artinya
sadar akan Kesuciannya Allah dari segala apa yang Allah titipkan kepada kita
akan apa yang Allah karuniakan kepada kita (Pandangan, Lisan, Pendengaran,
Perasaan, Jiwa, Hati dan lain lain sebagainya termasuk kesehatan dan nikamat
kesempatan serta kekuatan pada jiwa sehingga bisa berbuat sesuai keinginan)
dari kesemuanya itulah yang harus kita sucikan, menjaganya dari segala bentuk
keburukan, agar kita termasuk golongan manusia yang bartakwa.
e.
Membesarkan Allah (menghormati)
Membesarkan Allah juga tidak hanya dengan ucapan
semata, melainkan menghormati Allah, taat akan perintahnya, tunduk dan patuh,
membesarkan jiwa kita agar tidak berpaling dari Allah, serta menghormati segala
bentuk ciptaanNya baik yang Nampak maupun yang tidak Nampak dengan kasak mata.
Menghormati segala apa yang ditakdirkan Allah kepada kita, termasuk menghormati
takdirnya yakni bersyukur akan pemberianNya, menghormati takdir hidup pada
lingkungan keluarga kita, dirwat oleh orang tua kita dan lain sebagainya.
Termasuk menghormati segal wujud kebesaranNya, namun tidak menyembah
kebesaranNya hanya menghormatinya karena penciptanya.
3. SIFAT PENGABDIAN (PENGHAMBAAN)
Pengabdian
kepada Allah berarti sifat penghambaan diri. Terbagi lima bagian utama:
a.
Tekun beribadah
Rajin tekun beribadah kepada Allah tidak bermalas
malasan. Ini juga merupakan nafsu mutmainnah. Tekun dan bersungguh sungguh
(kesungguhan hati).
b.
Ikhlas menjalankan perintah Allah
Ikhlas beribadah tanpa pamrih, tanpa mengharap pahala
atau surga, bukan karena takut nearaka atau balasanNya, bukan juga karena hanya
sekedar melaksanakan, atau menggugurkan kewajiba, bukan pula atas dasar riya’
ingin dikata rajin dan lain sebagainya.
c.
Sabar beribadah
Sabar berarti tidak banyak Tanya, kenapa mesti begini
dan kenapa mesti begitu. Laksanakan saja. Sebagaimana surat al-Ikhalsh yang di
dalamnya tidak sekalipun ada kata yang menyebut kaya ikhlas. Ikhlas itu tidak
disebut sebut setiap kebaikan yang telah kita laksanakan, bahkan setiap
kebaikan yang kita laksanakan tidak mengharap imbalan dan bila perlu apa yang
telah kebaikan kita perbuat, dilupakan saja. Karena kesemuanya itu mutlak milik
Allah semata.
d.
Rendah hati dan rendah diri
Tidak sombong, iri hati, dengki dan khilaf diri.
Merasa bahwa Allah yang memiliki kita, Allah berhak akan hidup dan mati kita.
Tidak ada yang kita miliki selain dari pada miliknya Allah semua. Nafas yang
kita hirup juga milikNya. Semuanya milikNya. Tidak merasa angkuh dan tidak pula
merasa benar, bahwa apa yang kita fahami itu kebenaran menganggap yang lainnya
salah. Padahal semuanya kebenarannya Allah. Tidak merasa di atas dari yang
lainnya, tidak merasa selalu ingin di atas dari orang lain. Dan lain
sebagainya.
e.
Qana’ah (menerima apa adanya)
Menerima apa adanya dari setiap ketentuan takdir Allah
setelah kita usahakan untuk memperoleh harapan kita melalui usaha kiat. Jika
kita berusaha dan tidak sesuai dengan harapan terima saja dengan lapang dada.
Terima dengan penuh keikhlasan. Tidak banyak ngomel, tidak banyak memaksakan
kehendak. Selalu berharap yang terbaik disisi Allah.
Dari
ketiga hal penting di atas semuanya saling berkaitan. Dan tidaklah boleh
terlepas satu sama lain untuk kemurnian ibadah kepada Allah, untuk Islam yang
sesungguhnya agar kita diakui oleh Allah sebagai hambanya.
Kesemuanya
penulis lakukan dengan saling berbagi, biar sedikit yang penting bermanfaat
disisi Allah, biar sedikit yang penting perbuatannya. Semua yang asal dari pada
Allah Swt, jika masih ada kekurangan mohon ditambah atas kebenrannya Allah
sendiri. Jika itu merupakan kelebihan tentunya semuanya milik Allah dan asalnya
dari Allah. Ilmu yang kita ketahui saat ini sewaktu taktu Allah berhak
mencabutnya jika Allah menghendakinya Karen miliknya sendiri.
Untuk
lebih jelasnya silahkan bertanya kepada guru yang mursyid. Salah satu guru
mursyid yang penulis dipertemukan oleh Allah yakni Guru Besat Tapak Wali
Indonesia.
Semoga bermanfaat, Amiiin.
Assalamu Alaikum Warahmatullahi
Wabarakatuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar